Cari Blog Ini

KUMPULAN MUHASABAH


ISTIQAMAH DAN SABAR


Saudaraku,
Sebagian orang memahami sabar adalah di saat ia memikul beban atau menghadapi masalah lalu ia diminta untuk bersabar dalam menghadapi semua itu.

Sementara jika kita melihat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, akan kita temukan bahwa makna kesabaran itu meliputi segala sesuatu.

Kesabaran juga meliputi Istiqamah dalam beramal, sabar dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sabar dalam memerangi diri agar mampu meninggalkan maksiat, sabar dalam menerima iradah Allah Azza wa Jalla dan seluruh aspek kehidupan lainnya.

Kesabaran juga diperlukan untuk memerangi sifat congkak ketika sedang mampu dan menghilangkan kegelisahan dan putus asa ketika sedang tidak memiliki.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang men-dapat tempat kesudahan (yang baik).”

(QS. Ar-Ra’d (13) : 22)

Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla mengumpulkan empat hal, yaitu sabar, melaksanakan solat, menginfakkan apa yang telah diberi oleh Allah Azza wa Jalla, baik dalam bentuk sembunyi-sembunyi atau terang-terangan dan apabila melakukan kesalahan cepat-cepat ia melakukan kebaikan.

Kesabaran dalam ayat ini meliputi sabar dalam Istiqamah, sabar dalam menjalankan sholat dan ibadah dan sabar dalam menjaga kepedulian kepada orang yang membutuhkan.

Juga tak lupa untuk bersabar dalam menjaga diri dari kesalahan dan menggantinya dengan kebaikan.

Dalam ayat ini juga terselip satu pelajaran indah bahwa setelah menyebutkan tentang kesabaran dalam sholat, Allah Azza wa Jalla menggandengkannya dengan berinfak. Seakan menjadi pesan penting bahwa tidak ada artinya membangun hubungan dengan Allah apabila tidak dibarengi dengan kepedulian dengan hubungan antar sesama makhluk-Nya.

Rasulullah pernah berpesan dalam sebuah kesempatan bahwa :

“Kesabaran itu terbagi menjadi tiga. Sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan.”

Karena itu, apabila semua kesabaran ini telah digabungkan.

Sabar ketika susah, sabar ketika senang, sabar ketika jaya, sabar ketika terkena musibah, sabar dalam menjalankan ibadah dan beristiqamah dalam kebaikan maka Allah Azza wa Jalla menjanjikan kabar gembira kepada mereka dengan nasib yang baik di dunia dan akhirat.

أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّار

“Mereka lah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).”

Maka tanamkan kesabaran dalam diri kita di semua aspek kehidupan, bukan hanya disaat tertimpa kesusahan saja.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah untuk senantiasa bersabar atas segala iradahNya...
Aamiin Ya Rabb.


ANCAMAN CINTA DUNIA

Saudaraku,
Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur kehadirat Allah Azza wa Jalla atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan taqwa sebagaimana yang Allah perintahkan,

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
(QS. Ali Imran: 102).

Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah,

‎أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ

“Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.”
(Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84).

Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah Azza wa Jalla telah merincikan dalam ayat berikut ini:

‎قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
(QS. At-Taubah: 24)

Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya.

Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.

Adapun tanda-tanda orang cinta dunia adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.

Ada lima bahaya atas orang yang cinta dunia dan lalai terhadap akhirat:

Pertama:
Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadits Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan.

Kedua:
Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”
(HR. Muslim no. 118)

Ketiga:
Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih.
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى

“Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).”
(HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.)

Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan,

‎قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11)

“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.”
(QS. Adz-Dzariyat: 10-11)

Yang dimaksud “alladzina hum fii ghamrah” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi.

Keempat:
Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir.
Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.”

Terakhir, kelima:
Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Berbeda jika seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”
(HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Agar kita terhindar dari cinta dunia maka kita harus yakin dunia itu fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Kita harus senantiasa qana’ah (menerima) dengan apa saja yang Allah telah berikan. Kita harus mendahulukan ridha Allah Azza wa Jalla daripada hawa nafsu dan kepentingan dunia, karena akan memperoleh kenikmatan begitu banyak di surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim, no. 2392)

Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.”

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah dalam ketaatan, tidak tertipu dan tidak silau dengan gemerlap kehidupan dunia yang fana ini...
Aamiin Ya Rabb.


JANJI ALLAH DALAM AL-QUR'AN


Saudaraku,
Tahukah engkau bahwa ada empat janji yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada kita  dalam Al-Qur'an?

١. لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

1. Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untuk kalian...

(Qs. Ibrahim : 7)


٢. فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

2. Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada kalian...

(Qs. Al-Baqarah : 152)


٣. ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

3. Berdo'alah kepada-Ku pasti Aku kabulkan untuk kalian.

(Qs. Ghafir : 60)


٤. مَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

4. Tidaklah Allah mengadzab (menghukum) mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan...

(Qs. Al-Anfal : 33)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah untuk senantiasa bersyukur, ingat kepadaNya, berdoa dan mohon ampunanNya...
Aamiin Ya Rabb.


MERASAKAN MANISNYA IMAN

Saudaraku, 
Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

‏«ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﻦْ ﻛُﻦَّ ﻓِﻴْﻪِ ﻭَﺟَﺪَ ﺣَﻼَﻭَﺓَ ﺍﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ: ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﺳِﻮَﺍﻫُﻤَﺎ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﺤِﺐَّ ﺍﻟﻤَﺮْﺀَ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺒُّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻟﻠﻪِ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻜْﺮَﻩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻌُﻮْﺩَ ﻓِﻲْ ﺍﻟﻜُﻔْﺮِ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺬَﻑَ ﻓِﻲْ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ»

"Ada tiga hal yang barangsiapa tiga hal ini ada pada seseorang pasti dia akan merasakan manisnya iman, yaitu: 

1. Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya paling dia cintai dibandingkan selain keduanya, 
2. Dia mencintai seseorang yang mana dia tidak mencintainya kecuali karena Allah Azza wa Jalla  dan
3. Dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke neraka."

(HR. Al-Bukhary no. 16 dan Muslim no. 43).

Saudaraku, 
Dalam kehidupan ini seringkali kita diperbudak oleh berbagai keinginan dan ambisi... Ingin memiliki hingga mencintai sesuatu atau seseorang hingga mengalahkan cintanya kepada kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya... Bahkan tanpa disadari menyukai kekafiran... 

"أنْتَ حُرٌ مِمّا أنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِما أنْتَ لَهُ طامِع"ٌ. (ابن عطاء الله السكندري)

"Kamu menjadi manusia bebas terhadap sesuatu yang tak pernah kamu inginkan, dan kamu menjadi budak terhadap sesuatu yang kamu ambisikan".

(Ibnu Athaillah As-Sakandari).

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah untuk senantiasa mengutamakan mencintai Allah Azza wa Jalla dan RasulNya di atas cinta yang lain... 
Aamiin Ya Rabb. 



ALLAH SEBAIK-BAIK PEMBERI KEPUTUSAN


ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ :

ﺇِﻥَّ ﻋِﻈَﻢَ ﺍﻟْﺠَﺰَﺍﺀِ ﻣَﻊَ ﻋِﻈَﻢِ ﺍﻟْﺒَﻼَﺀِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺣَﺐَّ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﺍﺑْﺘَﻼَﻫُﻢْ ﻓَﻤَﻦْ ﺭَﺿِﻰَ ﻓَﻠَﻪُ ﺍﻟﺮِّﺿَﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﺨِﻂَ ﻓَﻠَﻪُ ﺍﻟﺴَّﺨَﻂُ


Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)."


( ﻛﺘﺎﺏ ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻟﻠﺤﺒﻴﺐ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺣﺴﻴﻦ ﺑﻦ ﻃﺎﻫﺮ ﺑﺎﻋﻠﻮﻱ)


Saudaraku, 
Hidup adalah sebuah ujian, jika Allah Azza wa Jalla menjawab doa-doamu, berarti Allah Azza wa Jalla ingin meningkatkan keimananmu...

Jika Allah Azza wa Jalla menunda menjawab doamu, berarti Allah Azza wa Jalla ingin meningkatkan kesabaranmu...

Jika Allah Azza wa Jalla tidak menjawab doamu, maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki rencana yang lebih baik untukmu...

Yakinilah bahwa "Allah Azza wa Jalla sebaik-baik pemberi keputusan".

(QS al Anam: 57)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah untuk senantiasa ridha atas iradah  dan keputusanNya...
Aamiin Ya Rabb.



KEDUDUKAN DI SISI ALLAH ﷻ

 إيضاح أسرار علوم المقربين صـ ١٢٩

إذا أردت أن تعرف منزلتك عند الله تعالى، فاعتبر بمنزلته عندك، وانظر إلى شدة تعلق سرك به، واهتمامك بمراضيه، وكرهك لما يكره، وموالاتك لأصحابه، ومجانبتك لشرار خلقه، إبن الأمر على هذا فهو الأصل المعتبر، ولا تبن الأمر منك ولا من غيرك على الأعمال الظاهرة إذ لا اعتبار بذلك، لأنها قد تكون في الأبرار والفجر.

Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah ﷻ, maka ukurlah kedudukan Allah ﷻ di dalam hatimu. Dan lihatlah seberapa kuat ikatan batinmu dengan-Nya. Seberapa kuat engkau memperhatikan hal-hal yang membuatNya ridha padamu. Seberapa kuat kebencianmu terhadap hal-hal yang DIA benci. Seberapa kuat engkau mengikuti orang-orang yang DIA cintai. Dan seberapa kuat engkau menjauhi orang-orang yang jahat dari makhlukNya.
Inilah tolak ukur kedudukan hamba di sisiNya yang sesungguhnya, janganlah engkau ukur kedudukanmu di sisi Allah ﷻ hanya dari amal-amal dhahir saja, karena hal tersebut bukanlah ukuran. Sebab amal-amal dhahir bisa dilakukan oleh orang yang shaleh dan juga orang yang fasik.

(Lidhahul Asrar 'Ulumil Muqarrabin, hlm. 129)

Semoga Allah ﷻ mengaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah untuk senantiasa mencari ridhaNya, menjauhi segala yang dibenciNya, mengikuti orang-orang yang dicintaiNya dan menjauhi orang-orang jahat yang membenci hambaNya...
Aamiin Ya Rabb. 

Posting Komentar

0 Komentar