MUHASABAH
Saudaraku,
Pada hakikatnya semua orang ingin hidupnya mulia dan bahagia di dunia maupun di akhirat. Tak ada seorang pun yang ingin hidupnya sengsara apalagi hina. Namun, kita sering keliru dan salah persepsi dalam menggolongkan siapa yang disebut orang mulia dan orang yang hina. Pandangan sebagian besar orang dalam mengukur kadar kemuliaan hanya dari segi materi, kekayaan berlimpah, memiliki rupa tampan atau cantik, jabatan yang tinggi, gelar bangsawan atau akademik yang berderet panjang...
Padahal, kesemuanya itu tidak dapat dijadikan tolok ukur seseorang itu mulia atau hina. Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertakwa,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujurat: 13)
Saudaraku,
Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
كرم الدنيا الغنى، وكرم الآخرة التقوى.
“Mulianya seseorang di dunia adalah karena kaya. Namun mulianya seseorang di akhirat karena takwanya.”
(Tafsir Al Baghawi, Ma’alimut Tanzil, 7: 348)
Saudaraku,
Dalam pandangan Allah Azza wa Jalla yang dilihat adalah hati dan amalnya,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ».
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.”
(HR. Muslim no. 2564)
عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَهُ « انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلاَ أَسْوَدَ إِلاَّ أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى »
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.”
(HR. Ahmad, 5: 158)
Bukan kulit putih membuat kita mulia, bukan pula karena kita keturunan darah biru, keturunan Arab, atau anak konglomerat. Yang membuat kita mulia adalah karena takwa...
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
شرف الدنيا الغنى ، وشرف الاخرة التقوى ، وأنتم من ذكر وأنثى شرفكم غناكم ، وكرمكم تقواكم ، وأحسابكم أخلاقكم وأنسابكم أعمالكم
''Kemuliaan dunia adalah kekayaan dan kemuliaan akhirat adalah ketakwaan. Kamu, baik laki-laki maupun perempuan, kemuliaanmu adalah kekayaanmu, keutamaanmu adalah ketakwaan, kedudukanmu adalah akhlakmu, dan (kebanggaan) keturunanmu adalah amal perbuatanmu.''
(HR. Adailami)
Ciri lain yang paling mononjol pada kepribadian orang mulia adalah beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran,
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”
(QS. Al Ashr: 3)
Demikian halnya orang yang men _dawam_ kan (membiasakan) ibadah _qiyamul lail,_ sebagaimana firman-Nya,
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
''Dan pada sebagian malam bershalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang mulia.''
(QS. Al Isra': 79)
Demikian halnya orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan, hidupnya akan mulia. Ini dijamin oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ
''Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.''
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Saudaraku,
Setiap manusia telah Allah Azza wa Jalla anugerahkan kelebihan dan kekurangan, tidak ada manusia yang seutuhnya sempurna. Semua kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri manusia merupakan kuasa dan _iradah_ (kehendak) Allah Azza wa Jalla, baik berupa fisik, materi, Ilmu, kedudukan, jabatan, keturunan dan lain-lain secara beragam...
Setiap kelebihan atau keutamaan yang telah Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepada kita seyogyanya kita sadari bahwa itu merupakan anugerah, bukan untuk disombong-sombongkan hingga sampai meremehkan orang lain. Bahkan ketika kita merasa lebih mulia karena sudah menjadi seseorang yang rajin melakukan amal ibadah, itu sendiri pun sebenarnya tidak akan banyak berarti karena kita tidak pernah tahu apakah Allah Azza wa Jalla menerima atau tidak amal ibadah kita tersebut. Subhanallah, Jika kita memang ingin meniru Ahlak Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah selalu tawadu', rendah hati, tidak ada kesombongan sedikitpun, selalu tersenyum, ramah dengan siapapun. Tidak mengganggap orang lain rendah, tidak selevel, merasa lebih banyak amalnya, lebih tinggi ilmunya, lebih banyak sedekahnya...
Saudaraku,
Dalam pandangan Allah Azza wa Jalla, bisa jadi pengemis di luar rumah kita itu lebih mulia dari kita, kalau kita atasan boleh jadi bawahan kita lebih mulia, kalau kita majikan boleh jadi pembantu kita lebih mulia dalam pandangan Allah Azza wa Jalla...
Orang yang _ujub_ dengan diri dan amalannya, merasa tinggi dan mulia di hadapan yang lain, padahal hakikatnya dialah yang paling rendah di hadapan Allah Azza wa Jalla...
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjaga kemuliaan untuk meraih ridha-Nya...
Aamiin Ya Rabb.
Wallahua'lam bishawab
0 Komentar